Sayang, Kalau Singkong Hanya Menjadi gaplek, begitulah ungkapan yang sering kita dengar saat orang berbicara tentang singkong.

kios-pertanian-daun-singkong

Memang kenyataan, Singkong atau Ubikayu ini merupakan  bahan utama pembuat tepung (pati) karena kandungan patinya yang tinggi. Bahan baku ubi kayu ini  tersedia melimpah dan murah diseluruh Indonesia. Dan juga karena singkong mudah ditanam disemua jenis tanah yang ada diseluruh pelosok Nusantara. Sayangnya  hasil panennya lebih banyak dibuat menjadi gaplek dari pada diolah menjadi bahan baku setengah jadi atau menjadi produk lain yang mempunyai nilai tambah yang lebih tinggi.

Di kalangan masyarakat Indonesia siapa tidak kenal singkong? Ya, tidak ada lah! Rata-rata orang Indonesia pasti kenal bahan pangan yang  disebut juga sebagai ubi kayu. Hebatnya, menurut laporan resmi Kementan RI, bahan pangan ubi kayu  ini menduduki peringkat ke 3 terbesar setelah padi dan jagung dalam hal mencukupi kebutuhan karbohidrat di Indonesia.

Fakta itu tidak perlu diperdebatkan karena masayarakat luas juga sudah mengerti. Konon menurut catatan itu pula, dari tahun ketahun tingkat kebutuhan singkong sebagai bahan baku pembuat tepung juga terus meningkat. Artinya tanaman singkong masih dibutuhkan.

Jika dihitung dengan data-data ilmiah, secara umum diketahui singkong ini memiliki komposisi kimiawi terdiri dari kadar air sekitar 60%, pati 35%, serat kasar 2,5%, kadar protein 1%, kadar lemak, 0,5% dan kadar abu 1%, Oleh sebab itu maka tak heran jika singkong masuk kedalam kelompok penyumbang sumber karbohidrat dan serat makanan yang paling signifikan. Meskipun singkong hanya sedikit memiliki kandungan gizi seperti protein.

Ubi kayu yang baru saja dicabut dari persawahan, lebih banyak  mengandung senyawa glokosida sianogenik. Tetapi hati-hati jika terjadi proses oksidasi yang berlebihan oleh enzim linamarase maka akan dihasilkan glukosa dan asam sianida (HCN). Jika ini menjadi over, maka singkong berubah menjadi racun bila dikonsumsi.

Faktanya masyarakat yang biasa mengkonsumsi singkong sudah tahu cara mengatasi kondisi itu sehingga dewasa ini tidak ada sedikitpun kekhawatiran mengenai racun yang mungkin bisa timbul. Bahkan hanya dengan melihat saja, orang segera tahu mana singkong berkualitas dan mana yang tidak.

Sesungguhnya kebutuhan bahan pangan berupa tepung di Indonesia, sangatlah besar. Buktinya pemerintah setiap tahun terus melakukan  impor tepung terigu yang dari waktu ke waktu semakin besar jumlahnya. Kalau saja jenis tanaman yang satu ini bisa diolah dengan benar maka kebutuhan tepung bisa digantikan oleh kehadiran singkong ini.

Tanaman singkong itu sendiri barangkali umurnya sudah ratusan tahun. Tetapi kenyataan membuktikan bahwa sampai hari ini singkong hanya menjadi bahan pangan selingan, dan produksi yang dihasilkan berupa tepung atau patin dan gaplek.  Adakah diantara kita yang mempunya gagasan lain guna menaikkan derajat  menjadi bahan olahan yang lebih baik?

 

Comments are closed.

AE Visitor

Today Today 178
Yesterday Yesterday 119
This Week This Week 713
This Month This Month 1,709
All Days All Days 386,921